Rabu, 28 Maret 2012

JAGOI BABANG: MENILIK KUALITAS PENDIDIKAN DI PERBATASAN

Oleh: Febri Hermawan

Jagoi Babang bukanlah sebuah kawasan elit, tetapi hanyalah kawasan tertinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam menuju pusat Kabupaten Bengkayang jika menggunakan sepeda motor melewati jalan negara yang rusak tak terurus dan setengah jam jika berjalan kaki menuju negeri tetangga. Meskipun Jagoi Babang merupakan titik nol batas Indonesia-Malaysia, kondisi di daerah ini cukup memprihatinkan, seperti dalam bidang pendidikan.

Kondisi Geografis
            Kecamatan Jagoi Babang merupakan kecamatan yang terletak paling utara
Kabupaten Bengkayang yang dibentuk pada tahun 1999. Secara geografis, Kecamatan Jagoi Babang terletak di 1015’16” Lintang Utara sampai 1030’00” Lintang Utara dan 109033’95” Bujur Timur dan 109059’27” Bujur Timur. Secara administratif, Kecamatan Jagoi Babang berbatasan dengan Serawak-Malaysia di sebelah utara, Kecamatan Seluas di sebelah selatan, Kecamatan Siding di sebelah timur dan Kabupaten Bengkayang di sebelah barat.
Luas wilayah Kecamatan Jagoi Babang pada tahun 2006 adalah sebesar 655,00 km2 dan terbagi dalam 6 desa. Pada tahun 2003, berdasarkan Perda nomor 26 tahun 2003, Kecamatan Jagoi Babang yang sebelumnya membawahi 5 desa dengan luas wilayah sebesar 1.218,30 km2 dipecah menjadi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Jagoi Babang dan Kecamatan Siding. Kecamatan Jagoi Babang wilayahnya mencakup 2 desa lama, yaitu Desa Jagoi dan Desa Kumba. Berdasarkan Perda nomor 5 tahun 2003, dua desa yang ada dipecah menjadi 6 desa. Desa Jagoi dipecah menjadi 2 desa, yaitu Desa Jagoi dan Desa Jagoi Sekida. Sedangkan Desa kumba dipecah menjadi 4 desa, yaitu Desa Kumba, Desa Sinar Baru, Desa Gersik dan Desa Semunying Jaya.

Penduduk dan Kondisi Sosial-Pendidikan
Salah satu modal penting dalam pembangunan adalah penduduk karena penduduk merupakan obyek sekaligus sebagai subyek dalam pembangunan itu sendiri. Penduduk sebagai subyek berarti penduduk yang ada menjadi pelaku pembangunan yang akan dilaksanakan. Penduduk sebagai obyek berarti penduduk merupakan tujuan dari pembangunan itu, yaitu membangun manusia yang ada.
Jumlah penduduk Kecamatan Jagoi Babang pada akhir tahun 2006 adalah sebanyak 8.259 jiwa dengan 1.207 kepala keluarga. Jika dirinci menurut jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki ada sebanyak 4.199 jiwa dan jumlah penduduk perempuan ada sebanyak 4.060 jiwa. Kepadatan penduduk yang ada di Kecamatan Jagoi Babang adalah sebanyak 13 jiwa per kilometer persegi. Rata-rata jumlah anggota keluarga untuk setiap keluarga di Kecamatan Jagoi Babang adalah 7 jiwa per keluarga[2].
Salah satu faktor penting dalam pembangunan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang ada melalui pendidikan. Indikator pembangunan pendidikan dapat dilihat dari ketersediaan fasilitas pendidikan yang ada. Pada tahun 2006 di Kecamatan Jagoi Babang, terdapat 15 Sekolah Dasar, 1 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan 1 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Namun demikian, sekolah untuk tingkat pendidikan TK, SMK masih belum tersedia. Jumlah murid selama tahun 2006 adalah sebanyak 943 siswa untuk tingkat SD, sebanyak 158 siswa untuk tingkat SLTP, dan sebanyak 51 siswa untuk tingkat SLTA. Selanjutnya, tenaga guru yang ada pada tahun ajaran yang sama untuk tingkat pendidikan SD adalah sebanyak 66 orang, sebanyak 16 orang untuk tingkat SLTP, dan sebanyak 13 orang untuk tingkat pendidikan SLTA. Masih perlu penambahan jumlah fasilitas pendidikan guna percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Kecamatan Jagoi Babang.

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan
            Berdasarkan beberapa kasus, di mata warga Negeri Jiran menawarkan sejuta kemajuan termasuk dalam bidang pendidikan. Hal tersebut menjadikan sebagian masyarakat mengadu nasib ke sana dan mengajak anak-anaknya meski masih di bawah umur. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar para orang tua dan anak-anaknya lebih perhatian terhadap dunia pendidikan. Beberapa upaya telah dilakukan oleh beberapa pengajar dan membuahkan hasil. Lambat laun kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya daripada menjadikannya buruh cilik makin meningkat. Menurut Plegon, salah seorang guru di sana, hasil tersebut berbanding lurus dengan peningkatan mutu sekolah berupa pemenuhan sarana-prasarananya. “Kalau bisa perhatian pemerintah kepada daerah di wilayah perbatasan agak lebih,” imbaunya. (kompas.com, 13 Oktober 2010)
            Pada dasarnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah terluar, perbatasan dan daerah tertinggal, seperti di Jagoi Babang tidak hanya dibutukan subsidi pendidikan melalui kegiatan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik oleh Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional wilayah terluar, perbatasan dan daerah tertinggal, tetapi juga peran aktif para pengajar melalui metode pengajaran yang aktif dan menarik.

DAFTAR PUSTAKA

Antoro, Billy.  Dan, Plegon Mulai Sumringah Melihat Jagoi Babang. http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/13/dan-plegon-mulai-sumringah-melihat-jagoi-babang/, diakses pada 15 Maret 2012 pukul 11.02.
Koordinator Statistik Kecamatan Jagoi Babang. Kecamatan Jagoi Babang dalam Angka, http://kalbar.bps.go.id/Bengkayang/file/product/kcda/kcdapdf/jagoi/KCDA%20Jagoi%20Babang%202007.pdf, diakses pada 15 Maret 2012 pukul 10.58.
Koordinator Statistik Kecamatan Jagoi Babang. Kecamatan Jagoi Babang dalam Angka, http://kalbar.bps.go.id/Bengkayang/file/product/kcda/kcdapdf/jagoi/Bab_3Penduduk.pdf, diakses pada 15 Maret 2012 pukul 10.59.
Koordinator Statistik Kecamatan Jagoi Babang. Kecamatan Jagoi Babang dalam Angkahttp://kalbar.bps.go.id/Bengkayang/file/product/kcda/kcdapdf/jagoi/Bab_4Sosial.pdf, diakses pada 15 Maret 2012 pukul 11.00.




ANALISIS GEGURITAN “SUJUD”

Febri Hermawan, 1006776302


SUJUD
            Rohadi Ienarta

mung sujud
bakal ngrumangsani
ana Langit
ngurung laku
(dikutip dari Panyebar Semangat Np. 31, 1 Agustus 1998)

à   Aspek Bunyi
Geguritan atau “puisi bebas” karya Rohadi Ienarta di atas merupakan contoh pola persamaan bunyi yang sudah tidak lagi menampakkan puisi Jawa tradisional. Rima akhir /d/, /i/, /t/ dan /u/ tidak ditampilkan secara berpola. Oleh karena itu, pemarkah spasial tidak tampak akibat kehadiran bunyi yang tidak berpola. Akan tetapi, bunyi yang dihadirkan pada puisi tersebut menjadi salah satu kekuatan yang fungsional karena tidak semata-mata ingin meghadirkan makna estetis.
à   Aspek Spasial
Geguritan ini hanya memiliki spasial tidak konvensional karena hanya terdiri atas empat gatra dan masing-masing gatra hanya terdiri atas dua kata. Namun demikian, masih dapat diperoleh makna kontekstual: mung sujud / bakal ngrumangsani / ana Langit / ngurung laku, meskipun tanpa menghadirkan tembung panggandeng ‘kata sambung’. Fungsi aspek spasial geguritan ini kurang menghadirkan makna estetis.
à   Aspek Kebahasaan
Tampilan bahasa pada geguritan ini tidak mengikuti kaidah kebahasaan secara utuh sebagaimana tampak melalui paramasatra ‘tata bahasa’ yang ditampilkan. Penulisan Langit (dengan huruf /l/ kapital) merupakan contoh “penyimpangan” penggunaan huruf kapital. Huruf kapital /l/ berfungsi aksentuatif dan konotatif untuk kata Langit sehingga berpengaruh pada makna kontekstual secara keseluruhan.
Dilihat dari leksikalnya, sangat sederhana dalam pengertian berasal dari kosa kata sehari-hari yang produktif, tetapi tidak ditemukan kosa kata asing dan dialek. “Sujud” merupakan majas dalam bentuk wacana “luas” dalam menyatakan atau mengungkapkan suasana “hening”, perasaan “insyaf”, pribadi “lemah”, tempat “suci dan hal-hal lain sehingga sesuai dengan tematik wacananya, yaitu menyembah Yang Maha Esa. Selain itu, puisi pendek ini mengandung leksikal yang dapat disebut sebagai majas. Ngurung laku ‘mengurung langkah’ merupakan majas personifikasi. Ungkapan tersebut merupakan “bentukan” baru atau tidak klise.
à   Aspek Pengujaran
Subjek Pengujaran
Berdasarkan kehadirannya dalam wacana, subjek pengujaran dalam geguritan ini termasuk ke dalam subjek pengujaran ekstern. Artinya, subjek pengujaran tidak hadir dalam wacana atau tidak bertindak sebagai aku liris. Jika dilihat dari wujud wacana sebagaimana dituturkan oleh subjek ujaran, termasuk geguritan yang monolog.
Objek Pengujaran
Subjek Ujaran
Geguritan ini menghadirkan subjek ujaran secara tersurat. Subjek ujarannya adalah sujud ‘bertelut’. Kosa kata itu dapat dianggap menduduki subjek kalimat dengan bakal ngrumangsani ‘akan menginsyafi’ sebagai predikat dan Langit ‘langit’ sebagai objek. Kata sujud juga merupakan sebab yang mengakibatkan bakal ngrumangsani / ana Langit / ngurung laku ‘akan menyadarkan / adanya Langit / mengurung langkah’. Dengan demikian, subjek ujaran dalam geguritan ini sekaligus menjadi judul dan menjadi bagian dari leksikal judul wacana.
Tema
Tema dalam geguritan ini lebih kuat tampil melalui aspek kebahasaannya. Hal tersebut karena ada indikasi kaitan yang erat antara leksikal judul dengan tema wacananya. Pada intinya, geguritan ini bertema keagamaan.
Latar dan Alur
Pada geguritan ini alur tidak mucul karena tidak bersifat naratif. Begitu pula dengan latar, tidak dimunculkan.